• Teknologi
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Bisnis
  • Berita
›Beranda›Kesehatan›Bagaimana Mengukur Jejak Maut Gelombang Panas di Jerman?Artikel

Bagaimana Mengukur Jejak Maut Gelombang Panas di Jerman?

Kesehatan2026-09-08 02:57:31526

Sengatan panas atau heatstroke biasanya diawali dengan sakit kepala, pusing, hingga kehilangan kesadaran.

Pada kondisi ini, mekanisme pengatur suhu gagal bekerja sehingga temperatur tubuh melonjak ke batas yang mengancam nyawa. Sengatan panas bisa memicu kegagalan multiorgan hingga kematian. Namun begitu, ia jarang dicantumkan sebagai penyebab kematian.

Menurut Kantor Statistik Federal Jerman, rata-rata per tahun hanya terdapat 21 kasus kematian akibat suhu panas selama periode 2004–2014.

Sebabnya, "angka 5.120 kematian terkait panas" di Jerman hingga 28 Juni 2026 yang dipublikasikan Robert Koch Institute merupakan perkiraan. Namun, estimasi RKI bukan tak berdasar.

"Angka ini merupakan hubungan yang didasarkan pada analisis statistik," kata Alexandra Schneider, ahli meteorologi, epidemiologi, sekaligus Wakil Direktur Institut Epidemiologi di Helmholtz Zentrum München.

Estimasi tersebut diperoleh dengan membandingkan angka kematian yang dikumpulkan Kantor Statistik Federal Jerman dengan data perkembangan suhu udara, yang dikumpulkan Dinas Meteorologi Jerman dalam kurun waktu tertentu.

Pada pekan terakhir Juni saja, sekitar 23.600 orang tercatat meninggal dunia di Jerman. Sementara suhu rata-rata mingguan—yakni rata-rata suhu siang dan malam selama satu pekan—mencapai 26 derajat Celsius. Menurut RKI, kematian akibat panas mulai meningkat ketika suhu rata-rata mingguan melampaui 20 derajat Celsius.

Jumlah kematian pada pekan terakhir Juni itu hampir 30 persen lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, yakni sekitar 18.200 kematian. Untuk memperkirakan jumlah kematian akibat panas, para peneliti memodelkan berapa banyak orang yang diperkirakan meninggal dunia, apabila suhu maksimum tidak melebihi 20 derajat Celsius.

Schneider menjelaskan bahwa sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi hasil analisis juga telah disesuaikan dalam model statistik tersebut. Dengan metode itu, RKI memperkirakan terdapat 5.120 kematian terkait panas, di mana 4.310 di antaranya terjadi hanya pada pekan terakhir Juni.

Alexandra Schneider mengamini estimasi tersebut. Padahal di masa lalu, dia pernah mengkritik metode yang digunakan RKI. Menurutnya, jika suhu dalam satu pekan berfluktuasi tajam, maka penggunaan angka rata-rata mingguan dapat menihilkan lonjakan suhu dalam data statistik. Akibatnya. jumlah kematian akibat panas cenderung terestimasi lebih rendah.

"Namun kali ini cuaca panas berlangsung terus-menerus," ujarnya.

Seperti halnya kematian akibat panas, angka kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin juga merupakan hasil estimasi berdasarkan relasi statistik.

Pada musim dingin, penyakit saluran pernapasan biasanya meningkat. Selain itu, suhu dingin—sama seperti suhu panas—dapat memicu gangguan sistem kardiovaskular, kata Schneider.

"Di Eropa, angka kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin masih jauh lebih tinggi dibandingkan kematian akibat panas," ujarnya. "Namun, kini terlihat adanya pergeseran secara perlahan."

Apakah krisis iklim yang menghangatkan musim dingin akan mengurangi jumlah kematian? Pertanyaan itu juga telah dikaji para peneliti melalui berbagai pemodelan.

Menurut Schneider, dalam berbagai skenario, hasilnya tetap sama.

"Efek bersihnya, yakni jumlah kematian secara keseluruhan, tetap meningkat."

Penyebabnya, peningkatan kematian akibat panas jauh lebih besar dibandingkan penurunan kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin.

Schneider mengatakan, jika perhatian hanya difokuskan pada sengatan panas sebagai penyebab kematian, dampak kesehatan akibat suhu tinggi akan sangat diremehkan.

"Karena itu digunakan metode statistik untuk melihat dan meneliti hubungan antara panas dengan berbagai penyakit kronis lainnya."

Dia sendiri terlibat dalam sejumlah penelitian yang menunjukkan kaitan antara suhu tinggi dan berbagai penyakit.

"Kami dapat menunjukkan bahwa panas kini berkaitan erat dengan meningkatnya kejadian serangan jantung," katanya.

Selain itu, suhu udara yang tetap tinggi pada malam hari juga meningkatkan risiko stroke.

Jonas Sonnenstuhl, seorang paramedis di Teltow, Brandenburg, mengatakan para tenaga kesehatan sudah memahami bahwa kasus stroke dan serangan jantung meningkat ketika cuaca sangat panas, sekaligus menjadi lebih cepat berakibat fatal.

Schneider menyebut angka kematian akibat panas hanya sebagai puncak gunung es. Meskipun suhu tinggi tidak selalu menyebabkan kematian, kondisi tersebut tetap menjadi beban serius bagi kesehatan, terutama bagi orang yang telah memiliki penyakit akut.

Sonnenstuhl menceritakan pengalamannya menangani seorang pasien perempuan berusia 17 tahun yang memiliki kelainan jantung bawaan dan menghubungi layanan darurat saat gelombang panas melanda.

"Hari itu dia menunjukkan gejala yang jelas menandakan tubuhnya sudah mencapai batas."

Pasien tersebut mengalami sesak napas, pusing, dan gangguan kesadaran.

Gelombang panas juga membawa tantangan tersendiri bagi petugas ambulans dan tenaga rumah sakit. Pada 28 Juni, ketika menjalani giliran dinas selama 24 jam, Sonnenstuhl mengatakan suhu di dalam ambulans tidak pernah turun di bawah 30 derajat Celsius. Kondisi itu diperberat oleh pakaian kerja yang tebal, sepatu bot berujung baja, serta tuntutan pekerjaan fisik yang berat.

Menurut Sonnenstuhl, banyak instalasi gawat darurat rumah sakit belum dilengkapi pendingin ruangan, demikian pula pos-pos ambulans.

"Baik kami maupun tenaga medis di rumah sakit sama-sama berada di batas kemampuan."

Padahal, bagi mereka yang bertugas menyelamatkan nyawa, kemampuan untuk tetap berpikir jernih merupakan syarat yang tidak bisa ditawar.

Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Jerman Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

URL artikel:http://papertraillab.com/html/86a799906.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • Hasil SEA V Cup 2026: Indonesia Hantam Kamboja 3-0 di Laga Perdana

  • Bukan Uang, Artis yang Tampil di Final Piala Dunia 2026 dapat Honor yang Tak Ternilai

  • Ketum Dekopin: Baru di Era Presiden Prabowo Gerakan Koperasi Dapat Perhatian

  • Kasus Febrie Adriansyah Dikaitkan dengan Blackout, Hotman Paris: Paling Lelucon!

  • Menyusuri Kampung Pecantilan di Ujung Cirebon, Minim Perhatian Pemprov Jabar hingga Diusulkan Gabung Jateng

  • Rumah Mewah di Grand Polonia Medan Meledak, 4 Korban Terjebak Belum Ditemukan Jelang Tengah Malam

  • Rumah Hanyut, Suami Meninggal di Huntara, Nurmaini Masih Menanti Hunian Tetap

  • Andre Rosiade Serahkan Ambulans untuk Warga Pagambiran, Tegaskan Hadir dengan Kerja Nyata

Artikel Populer

  • 1Krisis Moneter Asia 1997: Awal Runtuhnya Keajaiban Ekonomi Asia
  • 2Tinggal Sendiri dan Tak Punya Keluarga Bisa Buat KK Mandiri, Ini Caranya
  • 3Penjelasan Kortas Tipikor Terkait Kasus yang Jerat Febrie Adriansyah
  • 4Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 20 Juli 2026, Cek Keberangkatan Lengkap
  • 5Makin Tak Didukung Warga AS, Israel Gelontorkan Rp 897 M untuk Perbaiki Citra
  • 6Gempa M 4,8 Guncang Sukabumi, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
  • 7Ortu Remaja Sidoarjo Bugil Saat Terima Pesanan Ojol Buka Suara
  • 8Jasa Marga Perkuat Transformasi Bisnis, Fokus Ciptakan Nilai Berkelanjutan
  • 9Kenaikan Tarif Bus Transjakarta Masih Terus Dikaji
  • 10LPTQ Tangsel Disebut Dapat Dana Hibah Rp 11 Miliar, Pemkot: Cuma Rp 4,75 Miliar
  • 11Ngerinya Kebakaran Bar di Bangkok Tewaskan 27 Orang
  • 12Usia Produktif Dominasi Kasus HIV di Sidoarjo, Dinkes Catat 3.767 ODHIV Berusia 25-40 Tahun

Tag Populer

  • Olahraga
  • Berita
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Hiburan

Populer Situs

Iran Kecam Serangan AS Dekat RS Kanker Anak: Barbar!

Pramono Persilakan ASN DKI Nonton Final Piala Dunia 2026, Asal Kinerja Tak Berkurang

Beredar Surat Edaran Libur Final Piala Dunia 2026, Gubernur NTT: Itu Hoaks, ASN Tetap Masuk Normal

Geledah Kantor Bupati dan Dinas di Sukoharjo, KPK Sita Uang hingga Perhiasan

Promo Weekend Indomaret Hari Ini 18 Juli 2026, Popok Balita Diskon 45 Persen

Polda Riau Siapkan Pengamanan Riau Bhayangkara Run, Tekankan Green Policing

Memori Ngeri Bencana Lahar Dingin yang Menewaskan 25 Ribu Orang

PAM Jaya Layangkan Surat Peringatan ke Mitra Buntut Pekerja Tewas di Jaktim

Artikel Populer

  • 1Simak Harga Bekas Toyota Raize, mulai Rp 165 Jutaan
  • 2Baleg DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Masuk Prolegnas Prioritas 2026
  • 3Ortu Remaja Sidoarjo Bugil Saat Terima Pesanan Ojol Buka Suara
  • 4Ciputra Gandeng Singapore Medical Group, Hadirkan Cancer Center
  • 5Terima Ancaman dan Doxing Usai Komentari Mutasi Pegawai Kementerian PU, Dosen UGM Kirim Somasi
  • 6Niat Hati Bakar Rumput Kering demi Buka Jalan, Buntutnya Gedung Walet di Indramayu Nyaris Ludes Dilalap Api
  • 7BMKG Ungkap Penyebab Suhu Dingin di Bandung, Lembang Capai 13,4 Derajat Celcius
  • 8Krisis Air Bersih Melanda 22 Desa di Banjar Kalsel, Sumur Warga Mulai Mengering
  • 9Pertamina Tambah Pasokan Biosolar di Kepahiang Jadi 16 Kiloliter Per Hari, Antrean Panjang di SPBU Diurai
  • 10Prabowo ke Mentan Amran Sulaiman: Negara dan Bangsa Masih Butuh Kau

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Bisnis
    • Berita
    • Olahraga
    • Wisata
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Kesehatan
    ×