• Teknologi
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Bisnis
  • Berita
›Beranda›Teknologi›10 Tahun Kudeta Turki, Ketika Demokrasi Berubah ArahArtikel

10 Tahun Kudeta Turki, Ketika Demokrasi Berubah Arah

Teknologi2026-09-08 02:54:0783

Sore itu, 15 Juli 2016. Hari musim panas yang hangat hampir berakhir. Banyak orang menghabiskan malam Jumat itu bersama teman atau keluarga, menyambut akhir pekan dengan santai. Tidak ada yang mengira Turki akan segera mengalami perubahan yang begitu mendasar.

Beberapa jam kemudian, tank-tank melaju di jalanan. Jet tempur melintas di atas Ankara dan Istanbul. Tentara memblokir Jembatan Bosphorus, penghubung antara Eropa dan Asia. Parlemen di Ankara dihujani tembakan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan muncul lewat sambungan video dan menyerukan rakyat turun ke jalan menggagalkan kudeta.

Upaya kudeta tersebut gagal malam itu juga, namun dampak politiknya masih terasa hingga sekarang.

Pemerintah Turki menuding gerakan Gulen berada di balik upaya kudeta. Pendirinya, ulama Muslim Fethullah Gulen, pernah dianggap sebagai sekutu dekat Erdogan. Bersama-sama, keduanya memainkan peran penting dalam meredam pengaruh politik militer Turki dan memperluas kekuasaan Erdogan. Namun hubungan keduanya kemudian merenggang.

Di tahun itu, Gulen sudah menghabiskan bertahun-tahun di pengasingan di Amerika Serikat. Pemerintah menuduhnya menyusupkan para pengikutnya ke lembaga peradilan, kepolisian, militer, dan institusi negara lainnya selama puluhan tahun dalam upaya merongrong negara. Gulen dan para pengikutnya membantah keterlibatan dalam kudeta. Banyak pejabat militer tinggi yang diduga memiliki hubungan dengan Gulen ditangkap. Gulen meninggal di AS pada 2024 dalam usia 83 tahun.

Di Turki, 15 Juli kini menjadi hari libur nasional. Jembatan Bosphorus yang dulu berganti nama menjadi "Jembatan Para Martir 15 Juli", sebagai penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa malam itu. Menurut data resmi, 253 orang tewas, sebagian besar warga sipil. Banyak jalan, alun-alun, dan sekolah pun kini menyandang nama "15 Juli".

Namun peringatan ini bukan sekadar mengenang para korban. Ini juga menandai titik balik politik yang mendalam. Gerakan Gulen ditetapkan sebagai organisasi teroris, dan para pendukungnya yang diduga terlibat sebagian besar dicopot dari jabatan negara.

Enam hari setelah kudeta, parlemen menyetujui status darurat. Awalnya dibatasi tiga bulan, namun diperpanjang tujuh kali dan baru berakhir pada 19 Juli 2018. Selama dua tahun itu, presiden memerintah hampir sepenuhnya melalui dekret darurat, dengan total 32 dekret yang dikeluarkan.

Dampak dari pembersihan politik ini sangat luar biasa. Lebih dari 125.000 pegawai negeri dan anggota angkatan bersenjata dipecat. Menurut data resmi, sekitar 390.000 orang ditahan atau ditangkap antara 2016 dan 2025 atas dugaan hubungan dengan gerakan Gulen. Sekitar 113.000 di antaranya ditahan sebelum persidangan. Selain itu, 2.761 institusi, termasuk sekolah, asosiasi, yayasan, dan media, ditutup. Sebanyak 4.130 orang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atau hukuman seumur hidup yang diperberat atas dugaan keterlibatan dalam kudeta.

Ilmuwan politik Ersin Kalaycioglu mengatakan dampak status darurat masih terasa hingga kini. Meski secara formal dicabut pada 2018, praktik-praktiknya "sudah jadi bagian dari sistem." Negara mengalami pergeseran permanen. Khususnya, penggunaan dekret yang sangat sering telah melahirkan "struktur yang sangat tersentralisasi," katanya kepada DW.

Administrasi publik pun mengalami perombakan mendasar. Menurut Kalaycioglu, birokrasi telah berubah dari aparat yang memiliki standar profesional dan keahlian ilmiah tersendiri menjadi administrasi yang berfokus menjalankan arahan politik.

Partai-partai oposisi lebih jauh menuduh pemerintah memperluas pembersihan, jauh melampaui gerakan Gulen. Selain dugaan pendukung Gulen, para pengkritik pemerintah juga terdampak pemecatan dan proses hukum.

Secara politik, upaya kudeta itu juga mempercepat pendekatan antara Partai Keadilan dan Pembangunan milik Erdogan dengan Partai Gerakan Nasionalis yang berhaluan ultra-nasionalis. Dengan dukungan mereka, pemerintah berhasil meloloskan referendum konstitusi pada 2017. Hasilnya: Turki beralih dari sistem parlementer ke sistem presidensial. Jabatan perdana menteri dihapus, dan kekuasaan eksekutif presiden diperluas secara signifikan. Para pengkritik menyebutnya sebagai "sistem satu orang."

Kalaycioglu menggambarkan amendemen konstitusi ini sebagai perubahan rezim yang fundamental. Ia berpendapat sistem politik telah berkembang menjadi "sultanisme neopatrimonial", istilah yang merujuk pada bentuk pemerintahan di mana kekuasaan politik sangat terkonsentrasi di tangan satu individu dan keputusan-keputusan kunci sebagian besar bergantung pada presiden.

Sistem presidensial juga mengubah peta oposisi. Dengan mayoritas mutlak yang dibutuhkan untuk memenangkan kursi presiden, partai-partai oposisi mulai membentuk aliansi pemilu dan mengusung kandidat bersama. Strategi ini terbukti berhasil: dalam pemilihan kepala daerah 2019 dan kembali pada 2024, partai oposisi Partai Rakyat Republik memenangkan kursi wali kota di dua kota terbesar, Istanbul dan Ankara.

Namun kini, tak sedikit dari politisi oposisi tersebut yang sedang diselidiki atau menghadapi tuduhan terkait terorisme. Salah satu kasus yang paling dikenal adalah Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu, yang dianggap sebagai penantang politik utama Erdogan dan menghadapi tuntutan pidana setelah memenangkan pemilihan ulang.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman.

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: RIzki Nugraha

Lihat juga Video: Xi Jinping Pecat Dua Jenderal Top China, Muncul Isu Kudeta

[Gambas:Video 20detik]

URL artikel:http://papertraillab.com/html/285f799707.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • Kemensos Gandeng PKP Percepat Renovasi Rumah Ortu Siswa Sekolah Rakyat

  • LBH Jakarta Sebut Admin Akun X "TheKerupuk" Jadi Tersangka UU ITE, tetapi Tidak Ditahan

  • Kades dan ASN BPN Aceh Jadi Tersangka Korupsi Pengadaan Lahan Irigasi, Rugikan Negara Rp 2,2 Miliar

  • Daftar Lengkap 18 Rute BRT Bandung Raya, Konstruksi Jalur Khusus Bus Segera Dimulai

  • Waka MPR: Pemanfaatan AI bagi Disabilitas Bagian Amanat Konstitusi

  • Peredaran Narkotika Kerap Sasar Pelajar, Polres Jakpus Pasang Barcode Aduan Anonim di Sekolah

  • Belanja di Jepang Berubah Mulai November, Refund Pajak Dilakukan di Bandara

  • Pemerintah Gelontorkan Rp 10,3 Triliun untuk Percepat Program Listrik Desa

Artikel Populer

  • 1Tolak Barcelona, Nico Williams: Lebih Baik di Athletic Bilbao daripada Menang Banyak Gelar
  • 2Resep Telur Puyuh Kecap Ala Korea, Lauk Sederhana dengan Bumbu Meresap
  • 3Dampak Regrouping Sekolah Tanpa Kajian Matang, Guru Honorer hingga Siswa Miskin Terancam
  • 4Dokter Tegaskan Gigi Susu Tetap Harus Dirawat, Jangan Tunggu Copot Sendiri
  • 5Respons Laporan Warga, Polres Kuansing Musnahkan 48 Rakit Emas Ilegal
  • 6Farhan Larang Kegiatan Bakar Sampah di Sekitaran Bandara Husein Sastranegera Bandung
  • 7Dokter Ungkap Olahraga Bantu Bersihkan Otak dari Limbah, Ini Penjelasannya
  • 8Trump Sebut Bakal Beri Tarif ke Kanada Gara-gara Asap Kebakaran Hutan
  • 9Owen Rahadiyan Mundur dari Jabatan Manajer Persipura Jayapura
  • 10Prabowo Cek Mesin Pemusnah Sampah Sebelum Panen Raya Program TNI
  • 11Persija Turunkan Skuad Utama di Piala Presiden 2026 Usai TC Thailand Diundur
  • 12Halte TJ Kebon Sirih Arah Kota Ditutup Sementara hingga 20 Juli, Ini Alternatifnya

Tag Populer

  • Bisnis
  • Wisata
  • Hiburan
  • Teknologi
  • Berita
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Otomotif

Populer Situs

Kebakaran Landa Gunung Biru di Mojokerto, Jalur Pendakian Bukit Cendono Ditutup Sementara

Setahun Diuji, Ini Alasan Baterai Solid-State Belum Dipakai ke Mobil

Cak Imin Puji Sekjen Golkar Berani Kritik NU: Kita Sama-sama Tak Ingin NU Salah Jalan

Jenguk Pacar di Rutan Salemba, Wanita Ini Ditangkap usai Sembunyikan Ekstasi di Tisu

Luis de la Fuente Meraba Duel Spanyol Vs Argentina di Final Piala Dunia 2026

Polri Resmi Serahkan Barbuk dan Tersangka Kasus Eks Jampidsus ke Kejagung

142 Ribu Peserta BPJS Kesehatan di Kota Tasikmalaya Nonaktif, Status UHC Terancam Batal

Mengapa Melakukan Rutinitas Skincare Bisa Bantu Kelola Stres

Artikel Populer

  • 1Ada Barcode Laporan Anonim, Siswa: Kalau Lapor ke Sekolah Kadang Malu
  • 2Transformasi Pelabuhan Dipercepat, Kemenhub Andalkan Green Smart Port
  • 3Bupati Kulon Progo Ungkap Penyebab Kenakalan Pelajar: Berawal dari Pembiaran Hal-hal Kecil
  • 4Tak Perlu ke Bengkel, Ini 3 Cara Cek Komstir Motor Sendiri di Rumah
  • 5Sederet Fakta Menarik Final Piala Dunia 2026 Spanyol Vs Argentina, Siapa Ukir Sejarah?
  • 625 Kepala Daerah Dikirim ke Singapura untuk Belajar, Ini Kriterianya
  • 7Wellah Hatta Asal Indonesia Jadi Stage Manager Final Piala Dunia 2026
  • 8Daftar 11 Kepala Daerah yang Terjerat OTT pada 2026, Terbanyak dari Jateng
  • 9DPD Pastikan Aspirasi Daerah Terakomodasi dalam RUU Daerah Kepulauan
  • 10Cerita Warga Makassar Bertahan dengan Air Sumur Berlumpur, Kuning, dan Berminyak Setiap Kemarau

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Bisnis
    • Berita
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Pendidikan
    ×