• Teknologi
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Bisnis
  • Berita
›Beranda›Olahraga›BP MPR Gelar FGD di Padang, Bahas Amandemen UUD 45 hingga Keadilan EkonomiArtikel

BP MPR Gelar FGD di Padang, Bahas Amandemen UUD 45 hingga Keadilan Ekonomi

Olahraga2026-09-08 03:46:17236

Kelompok IV Badan Pengkajian MPR RI menyelenggarakan Focus Group Discussion bertajuk 'Sistem Keuangan Negara, Perekonomian Nasional, dan Kesejahteraan Sosial ' di Kota Padang, Sumatera Barat, Senin .

FGD dipimpin Ketua Kelompok IV Badan Pengkajian MPR RI, Tifatul Sembiring, dan dihadiri anggota Badan Pengkajian MPR RI dari unsur Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah , yakni K.H. Maman Imanul Haq, Yance Samonsabra, Dr. Lia Istifhama , Jupri Mahmud, dan Al Hidayat Samsu.

Hadir sebagai narasumber, Guru Besar Ekonomi Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang Prof. Dr. Idris, Ketua PUSaKO sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas Dr. Charles Simabura, serta Dosen FISIP Universitas Andalas sekaligus Peneliti PUSaKO Universitas Andalas, Muhammad Ichsan Kabullah.

Dalam sambutan pembukaannya, Tifatul menegaskan bahwa pembahasan FGD berangkat dari amanat Pasal 33 ayat , , dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur sistem perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial. Menurutnya, berbagai persoalan ekonomi yang berkembang saat ini menunjukkan perlunya evaluasi terhadap sistem ketatanegaraan agar lebih mampu menjawab tantangan zaman.

Tifatul menilai berbagai kebijakan ekonomi kerap bersifat reaktif dan belum dibangun di atas landasan filosofi yang kuat.

"Pemerintah jangan hanya responsif terhadap persoalan sesaat. Setiap kebijakan harus memiliki filosofi, visi, dan strategi yang matang sehingga pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan baru," ujar Tifatul dalam keterangannya, Rabu .

Tifatul mencontohkan program Makan Bergizi Gratis yang menurutnya lahir dari semangat pemerataan sosial, namun berpotensi menghadapi berbagai persoalan apabila tidak disertai desain kebijakan yang komprehensif dan sistem pengawasan yang kuat.

"Karena tidak diturunkan dalam bentuk filosofi, visi, dan strategi yang matang, ujung-ujungnya justru rawan korupsi. Anggaran sekian triliun rupiah bisa hilang begitu saja tanpa kejelasan," katanya.

Tifatul juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagaimana menjadi dasar pemikiran ekonomi Pancasila.

"Jika liberalisme cenderung individualis, maka kita seharusnya mengedepankan prinsip saling berbagi," ujar Tifatul.

Menurutnya, berbagai ketidaksesuaian dalam sistem tata negara, mulai dari persoalan ketimpangan ekonomi, rendahnya upah minimum di sejumlah daerah hingga kebijakan transfer ke daerah, menjadi alasan penting untuk melakukan penyempurnaan konstitusi.

"Nanti para pakar kita akan berbicara. Ujung-ujungnya arahnya adalah amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, karena banyak hal yang memang harus disesuaikan," tegasnya.

Pembangunan Harus Berkeadilan Lingkungan

Dalam paparannya, Prof. Dr. Idris menekankan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengabaikan biaya lingkungan yang harus ditanggung masyarakat.

Menurutnya, negara perlu menerapkan instrumen ekonomi yang mendorong pelaku usaha bertanggung jawab terhadap dampak pencemaran melalui prinsip 'polluter pays principle' .

"Pihak pencemar diberikan pilihan yang logis secara ekonomi, yakni membayar pajak lingkungan atau mengolah limbah yang dihasilkannya," jelasnya.

Dana Umat Perlu Kepastian Konstitusional

Sementara itu, Dr. Charles Simabura mengangkat persoalan semakin besarnya keterlibatan negara dalam pengelolaan dana filantropi keagamaan seperti dana haji, zakat, wakaf, hingga dana kurban.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tata kelola ekonomi Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945 mengenai perekonomian nasional, tetapi juga bersinggungan erat dengan Pasal 29 UUD NRI Tahun 1945 mengenai kehidupan beragama.

Charles menjelaskan bahwa potensi dana keagamaan yang dikelola negara sangat besar. Dana haji yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji mencapai sekitar Rp180 triliun, sementara potensi zakat nasional diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

Besarnya dana tersebut, menurutnya, menuntut kejelasan mengenai batas kewenangan negara agar tidak terjadi tumpang tindih antara fungsi regulator dan operator.

"Ketika kita berada dalam model campuran inilah yang menjadi tantangan bagi DPR dan MPR untuk mendudukkan kembali batasannya. Kapan sebuah lembaga bertanggung jawab sebagai pengelola atas nama umat, dan kapan bertanggung jawab sebagai pengelola atas nama negara, termasuk mengenai batasan akuntabilitasnya," ujarnya.

Daerah Perlu Ruang Fiskal yang Lebih Adil

Ichsan Kabullah menilai kebijakan fiskal nasional saat ini masih menghadirkan kesenjangan antara pusat dan daerah. Ichsan menyebut daerah menghadapi tekanan fiskal akibat terbatasnya transfer ke daerah serta meningkatnya berbagai beban pelayanan publik.

Karena itu, Ichsan Kabullah mendorong pemerintah mengembalikan semangat desentralisasi fiskal dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.

Perlunya Kepastian Hukum dan Penguatan Otonomi Daerah

Menanggapi berbagai paparan dari pakar tersebut, K.H. Maman Imanul Haq menyoroti perlunya kepastian hukum dalam pengelolaan dana umat.

Menurutnya, selama ini masih terdapat ambiguitas ketika terjadi penyalahgunaan dana keagamaan karena sering muncul perdebatan mengenai status dana tersebut sebagai keuangan negara atau dana publik.

"Sungguh ironis, ketika ada oknum yang melakukan korupsi atau penggelapan dana haji dan wakaf, saat hendak dijerat menggunakan instrumen hukum pidana korupsi negara, mereka berkelit dengan dalih bahwa itu bukan keuangan negara, melainkan dana umat atau dana publik," tegasnya.

Maman juga mengingatkan agar narasi ekonomi hijau tidak mengabaikan dampak eksploitasi sumber daya alam seperti nikel, litium, dan batu bara yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan.

Selain itu, Maman menekankan pentingnya memperkuat fungsi pengawasan parlemen terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Sementara itu, Dr. Lia Istifhama mengusulkan pendekatan pencegahan korupsi sejak dari sumber persoalan melalui pembenahan sistem keuangan negara yang lebih akuntabel.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur ini juga menilai perlu dilakukan evaluasi terhadap implementasi otonomi daerah agar pemerintah daerah memiliki ruang diskresi yang lebih memadai dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam sesi diskusi, anggota Badan Pengkajian MPR RI lainnya turut mengangkat sejumlah isu strategis, antara lain perlindungan terhadap UMKM dari ekspansi ritel modern, perlunya pengembalian Dana Kemaslahatan Haji yang lebih proporsional kepada daerah asal jamaah, serta penguatan ketahanan ekonomi nasional agar tidak terlalu bergantung pada dinamika pasar global.

Menutup FGD, Tifatul memastikan seluruh pandangan, aspirasi, dan rekomendasi yang berkembang dalam forum tersebut telah didokumentasikan oleh Sekretariat Badan Pengkajian MPR RI.

Seluruh masukan tersebut akan menjadi bahan penyusunan rekomendasi Badan Pengkajian MPR RI dalam rangka penguatan sistem ketatanegaraan, penyempurnaan kebijakan ekonomi nasional, serta pengkajian terhadap kemungkinan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 guna mewujudkan sistem ekonomi yang lebih berkeadilan, memperkuat semangat gotong royong, dan menghadirkan hubungan pusat-daerah yang lebih seimbang.

"Seluruh poin pembicaraan dan aspirasi hari ini telah direkam oleh Sekretariat dan akan dijadikan bahan masukan resmi untuk rekomendasi perubahan kebijakan ke depan," tutup Tifatul.

Simak juga Video Muzani Ungkap Permintaan Try Sutrisno Sebelum Wafat: Amandemen UUD 1945

[Gambas:Video 20detik]

URL artikel:http://papertraillab.com/html/382a799610.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • Anak Buah Purbaya: PFII Dibentuk agar Investasi Asing Masuk Jangka Panjang, Tak Mudah Keluar

  • Ditolak Atletico Madrid, Barcelona Akan Kembali Tawar Julian Alvarez

  • John Herdman Sanjung Performa dan Kedewasaan Mitchell Baker

  • Berbeda dari Standar Piala Dunia 2026, UEFA Batasi VAR untuk Kasus Simulasi

  • Netflix Akuisisi Startup AI Milik Ben Affleck Rp 10,53 Triliun, Sang Aktor Jadi Penasihat Senior

  • Fakta Baru Kasus Pengadaan Buah MBG Rp 170 Juta, Dua Pihak Merasa Dirugikan

  • Usia Produktif Dominasi Kasus HIV di Sidoarjo, Dinkes Catat 3.767 ODHIV Berusia 25-40 Tahun

  • Imigrasi Cegah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah ke Luar Negeri

Artikel Populer

  • 1Dikepung "Stockpile" Batu Bara, Warga Tagih Janji Wapres Gibran Selamatkan Candi Muaro Jambi
  • 2Kapolda Flag Off Riau Bhayangkara Run 2026: Riau Melawan Karhutla
  • 3Korban Tabrak Lari di Antapani Bandung, Kakek 81 Tahun Meninggal Dunia
  • 4Komisi IX DPR Minta BGN Beri Kepastian soal Moratorium Dapur Baru MBG
  • 5Presiden Iran Akui Sedang Hadapi Perang Skala Penuh Lawan AS
  • 6Pemkab Sigi Ajukan Pembangunan 199 Huntara Tahap II bagi Korban Gempa
  • 7Nur Widayanto Ungkap Sebab Kekalahan Timnas voli putra Indonesia dari Kamboja
  • 8Deretan Aksi Rasisme di Piala Dunia 2026, Suporter hingga Pemain Jadi Korban
  • 9Hari Kelima Pencarian KM Nurul Salsa, Dua Korban Ditemukan Terdampar di Pulau Balaloho
  • 10Pengirim Teror Bom di SDN Jaksel Ditangkap Tak Jauh dari Sekolah
  • 11MPLS, Taj Yasin Beri Motivasi Siswa SMAN 1 Dayeuhluhur Cilacap
  • 122 Perusahaan Properti Aguan Jadi Penguasa Pasar Modal RI

Tag Populer

  • Pendidikan
  • Berita
  • Bisnis
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Hiburan
  • Otomotif
  • Olahraga
  • Teknologi

Populer Situs

Polisi Amankan 8 Orang Usai Ojol Geruduk Kantor "Debt Collector" di Bandung, Kantor Akan Tutup

Gus Ipul Jelaskan MPLS Sekolah Rakyat Digelar Bertahap, Ini Alasannya

10 Tahun Kudeta Turki, Ketika Demokrasi Berubah Arah

Inovasi Skincare Lembut untuk Kulit Sensitif, Menjawab Kebutuhan Generasi Muda

Mantan Lurah Tambak Wedi Surabaya Laporkan Jual Beli Stan SWK ke Polisi

Imigrasi Cegah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah ke Luar Negeri

Lalin Cakung Jaktim Arah Cilincing dan Bekasi Macet Pagi Ini

Kajian Teknis Pelican Crossing di JPO Tendean yang Ditabrak Truk Segera Rampung

Artikel Populer

  • 1Prabowo: RI Punya Sistem Perlindungan Sosial, Salah Satu Terkuat di Dunia
  • 2Prediksi BMKG: Daftar Wilayah yang Berpotensi Hujan dan Angin Kencang Besok 20 Juli 2026
  • 3Juventus Incar Richarlison, Manfaatkan Koneksi De Zerbi dan Carnevali
  • 4Menakar Kemenangan Narasi dalam Konflik Iran-Amerika Serikat
  • 5Indonesia Bangun Pusat Pembibitan Babi Berstandar Internasional, Datangkan 546 Indukan dari Denmark
  • 6Hasil SEA V Cup 2026: Tekuk Tuan Rumah, Indonesia ke Semifinal Tantang Vietnam
  • 7“Demokrasi Tidak untuk Dijual”, Inggris Batasi Dana Kampanye dan Pengaruh Orang Kaya
  • 8Ngeri! Ular Sanca 'Nangkring' di Kamar Mandi Bikin Panik Warga di Bogor
  • 9Prabowo di Puncak Harkopnas: Muka Kalian Bukan yang Bawa Lari Uang ke LN
  • 10Rano Karno: Aku Dukung Spanyol Kalahkan Argentina 2-1

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Wisata
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Berita
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Pendidikan
    ×