• Teknologi
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Bisnis
  • Berita
›Beranda›Kesehatan›Great Stink: Saat Bau Tengik Menyelimuti LondonArtikel

Great Stink: Saat Bau Tengik Menyelimuti London

Kesehatan2026-09-08 03:45:48728

Sungai Thames pernah berbau busuk parah hingga membuat warga kesulitan bernafas. Mereka yang mampu, segera meninggalkan kota. Mereka yang tak punya pilihan lain lantas membasahi tirai dengan kalsium klorida untuk menahan bau busuk. Saat keluar rumah, mereka menempelkan sapu tangan ke hidung. "Siapa pun yang pernah menghirup bau busuk ini tidak akan pernah melupakannya, dan bersyukur jika masih hidup," demikian jelas pers lokal.

Hal itu terjadi di tahun 1858. Selama berminggu-minggu, suhu di musim panas terik berada di atas 30 derajat, tidak ada setetes pun hujan yang mendinginkan kota dan menyapu kotoran di Sungai Thames.

Thames yang jadi urat kehidupan di London, berubah layaknya saluran pembuangan kotoran. Airnya keruh berlumpur, penuh kotoran manusia dan hewan, segala macam sampah, serta limbah industri dari pabrik-pabrik.

Di tengah suhu panas yang memecahkan rekor, kotoran dan sampah yang membusuk terpapar sinar matahari tanpa henti, mengeluarkan bau busuk yang menyelimuti kota dan membuat udara terasa menyesakkan.

Antara tahun 1800 dan 1850, jumlah penduduk London meningkat dua kali lipat menjadi 2,5 juta orang. Pada masa itu, ibu kota Kekaisaran Britania Raya ini merupakan metropolis terbesar di dunia. Namun, sistem pembuangan yang usang dan beban berlebih tidak mampu menampung jumlah penduduk kota tersebut; pipa-pipanya mengalirkan segala macam kotoran langsung ke Sungai Thames.

Toilet model baru, yang mulai dibeli oleh warga kaya sejak pertengahan abad tersebut, justru memperburuk keadaan: kotoran langsung terbuang ke sungai. Sebelumnya, para pengumpul kotoran mengosongkan tangki septik di malam hari. Saat banjir, sungai tersebut meluapkan limbah ke jalan-jalan.

Bau hebat Sungai Thames pun mencapai dimensi baru, hingga tercatat dalam sejarah. "Sebuah saluran pembuangan mematikan mengalir melintasi jantung kota, bukan aliran sungai yang indah dan segar," tulis sastrawan terkenal Charles Dickens dalam karyanya "Little Dorrit". Namun demikian, orang-orang tetap menggunakan air tersebut untuk mencuci dan minum.

Pada musim panas tersebut penyakit disentri, tifus, dan kolera yang ditakuti menyebar dengan cepat. Orang-orang percaya penjelasan medis "miasma" yang mematikan dari zaman kuno . Mereka percaya, menghirup bau busuk atau tercemar, membuat mereka sakit.

Namun, sejak wabah kolera terakhir yang menewaskan sekitar 30.000 orang antara tahun 1831 dan 1854, dokter John Snow sudah mulai curiga. Di kawasan kumuh Soho pada masa itu, sekitar 500 orang meninggal setelah tangki septik meluap. Ia yakin bahwa air minum yang terkontaminasilah yang jadi penyebab penyakit.

Ia memerintahkan agar tuas pompa air di kawasan tersebut dibongkar. Hal ini menghentikan penyebaran penyakit. Selanjutnya, ia menyelidiki kasus-kasus kematian di sekitar pompa air lainnya dan menemukan bahwa di sekitar pompa-pompa tersebut, banyak warga yang terjangkit kolera. Namun banyak politisi yang belum mempercayai Snow saat itu. Pada Juni 1958, Snow meninggal, tidak lama sebelum terjadinya "Great Stink".

Metropolitan Board of Works, badan pengelola pembangunan kota, telah bertahun-tahun mendesak agar sistem saluran pembuangan London diperbarui. Namun, Parlemen saat itu belum menyetujui anggaran yang diperlukan. Proyek-proyek prestisius lebih menarik perhatian daripada infrastruktur bawah tanah. Namun, hal itu berubah ketika para anggota parlemen tersebut merasakan sendiri bau busuk yang menyengat itu.

Istana Westminster, yang baru dibangun beberapa tahun sebelumnya di tepi Sungai Thames, menjadi markas Parlemen Inggris. Namun anggota parlemen tidak dapat memikirkan urusan pemerintahan di tengah bau hebat "Great Stink". Para anggota parlemen pun mengungsi ke pedesaan. Dan mereka mengambil keputusan yang telah mereka tunda selama bertahun-tahun: London harus segera dibebaskan dari "uap berbahaya" Sungai Thames. Dalam waktu 18 hari, rancangan undang-undang untuk mendanai sistem saluran pembuangan baru disahkan dan tiga juta pound tersedia untuk proyek tersebut.

Insinyur Joseph Bazalgette ditugaskan untuk mengerjakannya. Ia merancang jaringan terowongan bawah tanah sepanjang sekitar 1.800 kilometer, yang menampung limbah dari jalan-jalan dan ruang bawah tanah kota, tidak langsung membuangnya langsung ke Sungai Thames.

Selain itu, Bazalgette memerintahkan pembangunan bendungan dan trotoar tepi sungai yang menyembunyikan pipa pembuangan utama bawah tanah sekaligus melindungi kota dari banjir. Terakhir, ia membangun dua stasiun pompa raksasa yang mengangkat air limbah agar dapat dialirkan lebih jauh. Stasiun Pompa Abbey Mills yang selesai dibangun pada tahun 1868 sering disebut sebagai "Katedral Air Limbah" karena arsitekturnya yang megah dan jadi penanda kemenangan atas kotoran, sampah, dan penyakit.

Pada tahun 1875, proyek ini selesai. Bazalgette telah menciptakan sistem pembuangan limbah paling modern di dunia pada masa itu. Insinyur ini begitu visioner merancang kapasitas sistem saluran pembuangan untuk populasi kota yang dua kali lipat lebih besar, yaitu sekitar empat setengah juta jiwa. Sejak saat itu, kolera menjadi bagian dari sejarah.

Satu setengah abad kemudian, hampir sembilan juta orang tinggal di London, telah menyumbat pipa-pipa dari era Victoria dengan produk zaman modern, mulai dari pembalut, popok, kondom, hingga sisa makanan. Hingga tahun 2025, infrastruktur karya Bazalgette masih menanggung beban utama sistem drainase London, dengan beberapa bagian diperluas.

Pada tahun 2025, Terowongan Thames Tideway sepanjang 25 kilometer diresmikan, karena sistem bersejarah Bazalgette sudah tidak lagi memadai.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

URL artikel:http://papertraillab.com/html/599c799393.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • DKI Mulai Tutup 2 Zona Aktif Bantargebang, Open Dumping Dihentikan Bertahap

  • Pascaledakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Pelaku Akan Jalani Sisa Pendidikan di Sekolah Lain

  • Erika Lulus S1 Tanpa Skripsi Berkat Inovasi Belajar Matematika lewat Tari Kembang Kahyangan

  • Persija Turunkan Skuad Utama di Piala Presiden 2026 Usai TC Thailand Diundur

  • Nomor Punggung 9 Persib Jadi Rebutan Dua Legiun Asing Anyar

  • 80 Hektar Lahan Terbakar di Bengkalis Riau, Ratusan Petugas dan 3 Helikopter Dikerahkan

  • Menuntut Negara: Bangsa Penagih atau Pencipta?

  • Promo PLN Tambah Daya 50 persen, Begini Caranya via Aplikasi PLN Mobile

Artikel Populer

  • 1PAM JAYA Salurkan Bantuan Toren Gratis, Warga: Sangat Berguna Sekali
  • 2Cara Tentukan BBM yang Tepat untuk Motor, Jangan Asal Pilih RON Tinggi
  • 3Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
  • 4Indonesia Siapkan 6 Bandara Hub untuk Perkuat Rute ASEAN-China
  • 5Viral Aksi Berani Bocil-bocil Hadang Pemotor Lewat Trotoar di Jakbar
  • 6Dapur MBG di Blora Pakai Minyak Goreng MinyaKita, Korwil SPPG: Enggak Boleh
  • 7Harga Buyback Emas Antam, Galeri 24, dan UBS 18 Juli 2026 Turun
  • 8Dukungan Keluarga Jadi Kekuatan Terbesar bagi Pejuang Kanker
  • 9Disalurkan di Kopdes, Prabowo: Barang Subsidi Milik Rakyat, Tidak Diperdagangkan
  • 10Sambut Presiden Prabowo, Siswa di Malang Titip Harapan soal Menu MBG
  • 11Pertalite Langka di Sumut karena Konsumen Pertamax Beralih? Ini Analisis Pengamat
  • 12Peredaran Narkotika Kerap Sasar Pelajar, Polres Jakpus Pasang Barcode Aduan Anonim di Sekolah

Tag Populer

  • Hiburan
  • Otomotif
  • Teknologi
  • Wisata
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Berita
  • Bisnis

Populer Situs

Polisi Cek TKP Kasus Anjing Husky yang Viral Dibacok di Bekasi

Efisiensi dan Keamanan Jadi Prioritas Memilih Pemanas Air Listrik

3.076 Satwa Liar Diamankan, Bakauheni Masih Jadi Jalur Rawan Penyelundupan

Pertalite Langka di Sumut karena Konsumen Pertamax Beralih? Ini Analisis Pengamat

14 Kecamatan di Cianjur Dilanda Kekeringan, BPBD Distribusikan 20.000 Liter Air Bersih

Cerita Pasutri Asal Tangerang Rutin Ikut Event Lari demi Jaga Keharmonisan Rumah Tangga

Investasi Semester I 2026 Tembus Rp 1.010 Triliun, Serap 1,45 Juta Tenaga Kerja

Kelanjutan Kasus Febrie Adriansyah, Polri Minta Masyarakat Percaya Pada Kejagung

Artikel Populer

  • 1Viral 2 Pekerja Migran Asal Agam Terikat Minta Dipulangkan dari Myanmar, BP3MI Tindak Lanjuti
  • 23 Zodiak yang Diprediksi Beruntung pada 19 Juli 2026, Ada Aries
  • 3Polri Resmi Serahkan Barbuk dan Tersangka Kasus Eks Jampidsus ke Kejagung
  • 4Diduga Lalai Tangani Balita hingga Meninggal, RS Maleo Sorong Dilaporkan ke Polisi
  • 5Ahli TPPU Beberkan Modus Perkara 3 Korupsi yang Jerat Febrie Adriansyah
  • 6Kronologi WNI Asal Madiun Kabur Saat Tur di Korea Selatan
  • 7Sanksi untuk 6 Mahasiswa Unesa yang Diduga Lakukan Kekerasan Verbal terhadap 26 Orang
  • 82 Kali Tertangkap Curi Motor, Pria di Lumajang Malah Beralih Curi Bebek
  • 9Kepala BRIN Dapat Tugas Gunakan Teknologi Cari Sumber Air
  • 105 Bantahan Hotman Paris Soal Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Kesehatan
    • Berita
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Otomotif
    • Wisata
    • Bisnis
    ×