• Teknologi
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Bisnis
  • Berita
›Beranda›Teknologi›Presiden Sudah Tahu Abnormalitas Pada Tata Kelola Program PrioritasArtikel

Presiden Sudah Tahu Abnormalitas Pada Tata Kelola Program Prioritas

Teknologi2026-09-08 03:44:075

Abnormalitas pada tata kelola program Makan Bergizi Gratis dan tata kelola Program Koperasi Desa Merah Putih sudah diketahui oleh Presiden Prabowo Subianto. Fakta ini hendaknya menjadi pengingat bagi semua pihak yang telah diberi kepercayaan untuk merealisasikan dua program prioritas presiden itu. Esensi pesannya adalah jangan lagi berperilaku destruktif dengan menunggangi kedua program prioritas itu.

Dua sosok yang sangat dipercaya Presiden Prabowo telah memberi sinyal bahwa Presiden tahu betul tentang abnormalitas tata kelola MBG dan tata kelola Program KDMP. Kedua sosok itu adalah Utusan Khusus Presiden untuk bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebagaimana diketahui bersama, apa pun data dan catatan kedua sosok ini tentang dinamika pemerintahan dan tata kelola sektor maupun program pada akhirnya akan sampai dan diketahui presiden.

Pada acara Pelantikan dan Pengukuhan DPP, DPD dan DPC Srikandi Jaga Desa di Jakarta, Jumat , Hashim mengungkapkan bahwa dia sudah mendengar adanya indikasi penyimpangan tata kelola pada program prioritas Presiden Prabowo Subianto. "Saya sudah dengar dan saya sudah banyak dapat laporan; sudah ada indikasi penyimpangan. Saya titip ya, pengawasan harus sangat ketat," kata Hashim.

Sedangkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam sebuah podcast belum lama ini menyatakan bahwa Presiden Prabowo sudah mengetahui adanya penyimpangan dan korupsi pada tata kelola program MBG serta program KDMP. Presiden, menurut Menkeu Purbaya, terus memantau penyimpangan itu hingga datanya akurat sebelum akhirnya mengambil tindakan tegas.

Pernyataan Hashim dan Menkeu Purbaya, dengan demikian, mengonfirmasi serta menjadi pembenaran terhadap pernyataan maupun persepsi masyarakat tentang abnormalitas tata kelola kedua program prioritas itu. Kritik maupun kecaman berbagai elemen masyarakat selama ini tidak salah, bahkan sejalan dengan hasil pantauan Presiden. Bagi semua elemen masyarakat, abnormalitas MBG itu sangat nyata. Tidak ada ruang untuk menutup-nutupi ketelanjangan ragam penyimpangan yang faktanya kemudian menjelma dalam wujud kasus keracunan puluhan ribu siswa penerima manfaat.

Abnormalitas program MBG yang bermuara pada skandal korupsi di tubuh BGN serta manipulasi jumlah dapur SPPG telah ditindak dan sedang menjalani proses hukum. Kini, tata kelola MBG memasuki periode pembenahan yang diawali dengan penghentian sementara selama libur sekolah. Abnormalitas yang sebelumnya tercermin pada belanja kebutuhan program yang ugal-ugalan itu hendaknya tidak diulangi lagi. lebih dari 20.000 unit motor yang diimpor BGN kini nyaris terbengkalai, padahal nilai belanja motor itu lebih dari Rp 1 triliun.

Setelah skandal korupsi di BGN diungkap dan para tersangka menjalani proses hukum, perhatian pun layak diarahkan pada abnormalitas yang terjadi pada realisasi dan tata kelola KDMP. Realisasi program KDMP sempat menyulut kontroversi karena belanja impor lebih dari 100.000 unit kendaraan niaga atau truk ringan dari India. Inisiatif belanja impor ini tentu dinilai aneh sehingga menjadi kontroversi.

Lazimnya, baik untuk kepentingan usaha maupun mobilitas pribadi dan keluarga, ada dua pertimbangan utama bagi masyarakat kebanyakan saat membeli mobil, yakni mobil yang tangguh dan irit BBM serta biaya perawatan purna jual yang mudah dan murah. Berpijak pada pertimbangan ini, pilihan utama belanja kendaraan niaga adalah produk industri otomotif dalam negeri yang memiliki jaringan layanan purna jual yang tersebar di banyak lokasi dan di berbagai daerah.

Banyak komunitas bertanya tentang pertimbangan para pelaksana program KDMP saat memutuskan belanja impor mobil dari India. Selain menyoal harga per unit dari kendaraan impor itu, muncul pula pertanyaan tentang layanan purna jual. Dengan jumlah 100.000 unit yang rencananya didistribusikan ke puluhan ribu gerai KDMP di seluruh Indonesia, bersediakah eksportir kendaraan niaga dari India membangun jaringan layanan purna jual di semua daerah?

Dari pertimbangan aspek efektivitas dan efisiensi, kemungkinannya sangat kecil bagi eksportir membangun jaringan layanan purna jual. Persoalan berikutnya tentang kelaziman merawat kendaraan. Semua kendaraan niaga itu lazim mendapatkan perawatan rutin setelah pemakaian mencapai jarak tertentu. Kalau disiplin ini tidak dijalankan, semua kendaraan niaga itu pada akhirnya akan menjadi tumpukan barang rongsokan.

Perhatian masyarakat terhadap abnormalitas KDMP kemudian berlanjut dengan keanehan pemilihan lokasi gerai KDMP di berbagai wilayah. Dalam konteks bangunan fisik untuk usaha, pemilihan dan penetapan sejumlah lokasi gerai KDMP dinilai tidak lazim karena jauh dari pemukiman warga. Bahkan ada kasus berupa tindakan merampas area sekolah hanya untuk membangun gerai KDMP.

Ada gerai KDMP berlokasi di tengah tambak, ada yang dekat hutan dan di lereng gunung. Gerai lainnya dekat pemakaman dan gerai yang menghadap jurang. Ada juga gerai di tengah jalan hingga gerai di ujung area persawahan. Lokasi dan posisi gerai seperti itu tentu tidak nyaman untuk dijangkau atau didatangi calon pembeli. Dan, hampir setiap hari keanehan penetapan lokasi dan bangunan fisik gerai KDMP itu diviralkan oleh warga setempat di media sosial.

Kontroversi lainnya adalah niat menutup jaringan gerai atau mini market yang telah eksis untuk sekadar memberi peluang tumbuh bagi jaringan gerai KDMP. Ini adalah ide yang destruktif. Ide ini sama dengan analogi tidak boleh ada bank swasta lokal dan asing karena pemerintah sendiri sudah punya bank dengan jaringan kantor cabang yang tersebar hingga seluruh kabupaten. Nyatanya, kehadiran bank swasta lokal dan asing tidak pernah menutup ruang tumbuh bagi bank milik pemerintah, bahkan kedua entitas bisa tumbuh berdampingan dan saling melengkapi.

Dibangun dengan nilai investasi yang tidak kecil, jaringan mini market yang telah eksis selama puluhan tahun itu tak hanya menyerap tenaga kerja, tapi nyata-nyata telah memberi ragam manfaat bagi masyarakat. Mampu beradaptasi dengan perubahan dan era konektivitas, jaringan mini market yang telah eksis selama ini tak hanya menjual produk, tetapi juga menyediakan sejumlah jasa yang dibutuhkan masyarakat, termasuk jasa pembayaran. Jadi, menghentikan usaha mereka demi ruang tumbuh KDMP sama sekali tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru menambah persoalan.

Presiden Prabowo diyakini tidak sepakat dengan ide destruktif seperti itu.

Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI/Ketua MPR RI ke-15/Ketua DPR RI ke-20/Ketua komisi III DPR RI ke-7/Dosen Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya dan Universitas Pertahanan

URL artikel:http://papertraillab.com/html/606c799386.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • MUI Hormati Putusan MK Soal Izin Tambang Tak Boleh Penunjukan Langsung

  • 2 WN Vietnam Dideportasi gegara Buka Praktik Dokter Ilegal di Jaksel

  • Cerita Ibunda yang Kena Dampak Pemuda Madiun Kabur Saat Tur di Korsel

  • Febrie Adriansyah Punya Dua Status Hukum dalam Kasus yang Sama, Ini Kata Pakar

  • OTT Bupati Lombok Barat, KPK Sita Uang Tunai Ratusan Juta

  • Kelompok Kriminal Terorganisir India Jadi Ancaman Global

  • Ritel Mau Berburu Cuan? Ini Pilihan 8 Saham Prospektif, Ada yang Potensi Naik 44,7 Persen

  • Polisi Kembali Periksa Ketua DPRD TTU Terkait Kasus Intimidasi terhadap Dokter Icha

Artikel Populer

  • 1Hasil Voting Media Spanyol, Dunia Berpihak pada La Roja Dibanding Argentina
  • 2Pasar Kendaraan Listrik Diklaim Tumbuh, BYD Tambah Jaringan Diler di Jawa Barat
  • 3Pelaku Penembakan Brutal di Bar Canggu Bali Ditangkap di Soetta!
  • 4Kejagung Ungkap Kerugian Negara Kasus Samin Tan Rp 17,7 Triliun
  • 5Rasa Group Bidik Timur Tengah hingga AS, Andalkan Ekspor Brand Kuliner Indonesia
  • 6Tak Mau Salahkan Masa Lalu, Davina Karamoy: Memang Sudah Takdirnya
  • 7Cari Bukti Tambahan Kasus Bupati Etik, KPK Geledah Rumah 3 Tersangka hingga Kepala PU Sukoharjo Hari Ini
  • 8Politik AS Geger, Ratusan Anggota DPR AS Balik Arah Lawan Israel
  • 9KPK Dalami Tujuan Bupati Kuansing Beri Amplop ke Menhut Raja Juli
  • 10Ngerinya Kebocoran Gas Paling Mematikan dalam Sejarah, 3 Ribu Orang Tewas
  • 11Survei AFTECH: Fintech Beralih Fokus ke Penguatan Fundamental Bisnis
  • 12Pengendara yang Nekat Lewat Trotoar Daan Mogot Jakbar Bakal Ditilang ETLE

Tag Populer

  • Olahraga
  • Hiburan
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Wisata
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Berita

Populer Situs

Intip Paspor Pelaut Zaman Belanda di Museum Bahari Jakarta, Sejak 1939

Tinjau Proyek Jalan, Gubernur Lampung Tekankan Kualitas-Pengawasan Berlapis

DLH Sanksi Pembakar TPS Ilegal di Cikeas, Wajib Bersihkan dan Pulihkan Lahan

Prabowo: Pakar Ramalkan RI Negara Ke-4 Terkaya di Dunia Tahun 2045

Soal Kemunculan Liga Aspal, Pramono: Karena Keterbatasan Fasilitas Olahraga di Jakarta

Pemprov Jatim Terbitkan Pergub Kelas Jalan, Truk Jumbo Tak Bisa Asal Melintas

Kuasa Hukum Eks Dirut Bank Bengkulu: Klien Kami Pidana Perbankan bukan Korupsi

Sungai Kampar di Riau Tercemar Tambang Emas Ilegal di Sumbar, Walhi: Aparat Harus Cepat Bertindak

Artikel Populer

  • 1Promo Superindo Periode 17-19 Juli 2026, Telur Harga Spesial Mulai Rp 26.000
  • 2LBH: Admin TheKerupuk Tak Pernah Diizinkan Bicara Empat Mata dengan Pengacara Saat Diperiksa
  • 3LNG Abadi Masela Serap 12.000 Tenaga Kerja, Pemerintah Prioritaskan Warga Lokal
  • 4Pasca-ledakan Gudang Amunisi Madiun, RSUD Caruban Dijaga Ketat dan Akses Publik Dibatasi
  • 5Dilaporkan 11 Juli, Admin TheKerupuk Jadi Tersangka Empat Hari Kemudian, LBH Soroti Prosesnya
  • 6Prabowo: Pakar Ramalkan RI Negara Ke-4 Terkaya di Dunia Tahun 2045
  • 7Mendagri Ungkap Strategi Cegah Korupsi di Daerah Lewat Sistem-Integritas
  • 8Buntut Kericuhan Pascalaga Spanyol vs Argentina, FIFA Buka Penyelidikan
  • 9KM Nurul Salsa Tenggelam di Selayar Sulsel: 49 Selamat, 1 Meninggal, dan 24 Masih Dicari
  • 10Pangdam Ungkap Alasan TNI Bangun Batalyon Teritorial di Tiap Kabupaten, Bukan Sekadar untuk Tempur

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Teknologi
    • Bisnis
    • Hiburan
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Olahraga
    • Kesehatan
    ×