• Teknologi
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Bisnis
  • Berita
›Beranda›Hiburan›Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan IklimArtikel

Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim

Hiburan2026-09-08 03:40:5177

Para ilmuwan khawatir dunia sedang menuju kepunahan massal keenam, yaitu peristiwa di mana tiga perempat spesies di Bumi lenyap.

Kepunahan hebat seperti ini pernah terjadi lima kali sepanjang sejarah. Namun berbeda dari masa lalu, kepunahan kali ini sebagian besar dipicu oleh ulah manusia, seperti polusi dan perubahan iklim.

Para peneliti kini berlomba mencari cara untuk mencegah kehancuran tersebut, yang juga bisa mengancam pasokan makanan dunia secara serius.

Melansir Independent, Selasa (14/7/2026) Amy McEuen seorang peneliti dari Illinois, Amerika Serikat percaya ia telah menemukan jawabannya saat melakukan penelitian di pegunungan Provinsi Yunnan, China barat daya.

Pegunungan tersebut melindungi tempat tinggal 16 jenis primata seperti owa, monyet berhidung pesek, lutung, kera, dan kukang. Dan menurut McEuen, tempat itu bisa membantu melindungi hewan dan tumbuhan lain di ekosistem tersebut, sekaligus menjadi contoh untuk upaya pelestarian di masa depan.

“Usaha melindungi panda di China terbukti sangat berhasil menyelamatkan ratusan spesies asli lainnya. Ini karena panda membutuhkan area hutan yang sangat luas untuk bertahan hidup,” kata McEuen, profesor biologi dari University of Illinois Springfield.

“Dengan jutaan spesies yang harus dilindungi, kita tidak punya cukup waktu untuk menyelamatkannya satu per satu. Untungnya, ada cara yang lebih cepat untuk menjaga keanekaragaman hayati, yaitu menggunakan pendekatan umbrella species (spesies payung),” jelasnya.

Pendekatan umbrella species

Primata, serta kelompok hewan lain seperti kucing besar seperti harimau atau singa dan reptil, adalah "spesies payung" yang membutuhkan wilayah jelajah sangat luas.

"Dengan melindungi habitat yang luas bagi hewan-hewan kunci ini, makhluk hidup lain di sekitarnya juga otomatis terlindungi dari bahaya ulah manusia," jelas McEuen.

Beberapa hewan yang paling disukai di dunia seperti orangutan, berang-berang laut, dan panda juga merupakan spesies payung. Hal ini dapat mempermudah usaha untuk mengajak orang-orang melestarikan mereka.

Namun, tentu saja ada tantangan lain yang bisa menghambat. Banyak hewan sering berpindah tempat, sehingga jauh lebih sulit untuk dilindungi.

McEuen menyebut upaya melindungi hewan yang sering berpindah tempat ini sebagai masalah yang lebih rumit.

“Meski begitu, kita bisa memikirkan cara menyediakan area persinggahan atau batu loncatan habitat di sepanjang jalur perjalanan mereka untuk membantu mereka,” catatnya.

Namun, para pelestari alam kini berpacu dengan waktu. Bumi kehilangan berbagai jenis kelompok hewan dengan kecepatan yang sama seperti kepunahan massal di masa lalu, yaitu ratusan hingga ribuan spesies setiap tahunnya.

“Kabar baiknya, kita belum benar-benar kehilangan mereka,” kata McEuen.

Menurutnya, tidak ada usaha yang terlalu kecil. Menanam taman bunga pemikat serangga di halaman atau di atap rumah saja sudah bisa membantu menjaga populasi serangga beserta hewan pemangsanya.

Hewan-hewan itu sendiri memberi kita alasan untuk tetap optimis. Sudah ada bukti bahwa beberapa spesies mulai beradaptasi dengan perubahan iklim, seperti mengubah ukuran tubuh dan perilaku mereka. Keanekaragaman genetik di dalam satu spesies juga membuat sebagian hewan lebih tahan banting dibanding yang lain.

Hal inilah yang sedang dicoba dikembangkan oleh para ilmuwan di laboratorium.

“Menurut saya, memanfaatkan kecerdasan kita untuk membantu alam juga memberi saya harapan, terutama saat berusaha menjaga keanekaragaman hayati yang ingin kita lestarikan,” kata McEuen.

URL artikel:http://papertraillab.com/html/899c899092.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • Menkop Resmi Buka Pelatihan Manajer KDKMP

  • Hasil Semifinal Japan Open 2026: Fajar/Fikri Melaju ke Final

  • Dominik Szoboszlai Perpanjang Kontrak di Liverpool hingga 2031

  • Mengenal Antonela Roccuzzo, Istri Messi yang Jadi Sorotan Jelang Final Piala Dunia 2026

  • Menkop Kumpulkan Pengurus Kopdes Merah Putih, Cari Solusi Kendala Operasional

  • Houthi Umumkan Blokade Laut untuk Arab Saudi: Mata Dibayar Mata

  • Dinilai Lalai, Sopir Truk Galon Jadi Tersangka Kecelakaan yang Tewaskan 4 Orang di Sibolangit

  • Siapa Femas Yani Arianto? Sosok Pemuda Madiun yang Kabur Saat Tur Korea Selatan

Artikel Populer

  • 1Paniknya Ibu-ibu di Bogor Lihat 2 Ular King Cobra, Minta Bantuan Damkar
  • 2The Neighbourhood Buka Konser Lewat “Hula Girl”, Langsung Disambut Teriakan Penonton
  • 3Alasan Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026
  • 4PKB: Konflik Suku-Agama Berawal dari Persoalan Kemiskinan
  • 5Kejagung Terbitkan Sprindik Baru, Status Febrie Adriansyah Masih Saksi, Ini Penjelasannya
  • 6Mendes Yandri Pastikan KDKMP Tak Matikan UMKM dan Warung di Desa
  • 7Sejoli Rampok Rumah di Klaten, Ancam Korban Pakai Parang
  • 8Israel Bocorkan Keberadaan Terbaru Mojtaba Khamenei, Sebut Tak Lagi di Iran
  • 95.000 Batang Ganja di Temukan di Yahukimo Papua, Pelaku Diburu
  • 10Pemobil di Chili Tabrak Kerumunan Festival, 6 Orang Tewas
  • 11BPH Migas Kawal Upaya Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Antrean BBM di SPBU Berangsur Terurai
  • 12Kejari Tetapkan ASN Pemkab Bogor Tersangka Korupsi RSUD Parung, Langsung Ditahan

Tag Populer

  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Hiburan
  • Otomotif
  • Berita
  • Teknologi
  • Olahraga

Populer Situs

Banjir 1 Meter Rendam Kota Sinjai, Rumah Jabatan Bupati dan Jalan Utama Tergenang

Anggota Komisi IX DPR Minta Kebijakan MBG Wajib Terdokumentasi, Bukan Instruksi Verbal

Kesaksian Sopir Truk Korban Tabrakan Beruntun di Tol JORR Arah Tanjung Priok

Edarkan Tembakau Sintetis via Medsos, 2 Mahasiswa di Jaksel Ditangkap

Warga Bogor Dilanda Kekeringan, Terpaksa Mandi dan Nyuci Pakai Air Sungai

Terungkap Modus Dugaan Penipuan Berkedok Tes TOEFL Saat MPLS di Yogyakarta, Begini Duduk Perkaranya

Kajian Teknis Pelican Crossing di JPO Tendean yang Ditabrak Truk Segera Rampung

Jangan Terburu-buru Hakimi, Tragedi Cipayung Harus Diusut Secara Objektif

Artikel Populer

  • 1Gubsu Bobby Penuhi Janji Berkantor di Nias 3 Bulan, Dimulai Rabu Pekan Ini
  • 2Dituding Mangkrak, Manajemen LRT City Pastikan Proyek Berlanjut, Pendanaan Masih Dicari
  • 3Tim SAR Cari Pria Tenggelam Saat Berenang Pakai "Styrofoam" di Waduk Jatiluhur
  • 4Bangun Batch 3 IKN, Basuki Minta Tambahan APBN Rp 2,7 Triliun
  • 5Kortas Tipikor Polri Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Modal Terkait Batu Bara
  • 6Viral Penjual Kolesom Jumbo di Jaksel Disebut Beralkohol, Apa Itu?
  • 7Tak Cuma Himpun Dana, Buyback Kini Jadi Kunci Crowdfunding
  • 8Piala Dunia Bisa Bermanfaat untuk Kesehatan Mental
  • 9John Herdman Sanjung Performa dan Kedewasaan Mitchell Baker
  • 10Trump Sok-sokan Kritik Taktik Inggris yang Kalah di Semifinal Piala Dunia

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Wisata
    • Pendidikan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Berita
    • Bisnis
    ×